by : Hira Arta
“Lama banget sih bel istirahat berbunyi?” Ucapku sambil menghela nafas danmembaringkan badan ke atas meja.
“Sabar, lagian tinggal 15 menit lagi kok.” Balasseorang murid pria yang duduk di sampingku.
“Yah.. kamu mah enak bilang begitu karena kamu baik-baik saja.”
“Lah aku, nggak denger nih perutku yang dari tadi bunyi? Aku belum makan tau dari pagi.” Omelku sambil memegang perut yang tidak berhenti berbunyi.
“Hahahaha, siapa suruh untuk ngga sarapan.” Tertawa cengegesan.
“Yaelah bro... Aku bangun kesiangan tadi. Jadinya ga sempet sarapan.” Begitulah percakapan antara aku dan temanku ditengah jam Pelajaran. Sembari menunggu bel istirahat berbunyi.
Kenalin aku Ardito Rama atau biasanya teman-teman yang lain memanggilku Rama. Kelas 11 di sebuah sekolah yang bisa dibilang cukup terkenal di daerah tempatku tinggal. Ini adalah hari ke dua di musim gugur dan aku harus bertahan menghadapi tugas-tugas yang masih tidak ada habisnya ini. Padahal liburan sudah tidak lama lagi. Lelah memikirkan hal itu aku pun membaringkan badanku ke meja dan tidur. Tak lama bel istirahat pun berbunyi. Para murid pun berbondong-bondong meninggalkan ruangan kelas.
“Kuy kantin.” Ajak temanku yang Bernama Iyo.
“Gasss!”
Aku dan Iyo pun pergi ke menuju kantin. Di perjalanan aku dan Iyo berbincang-bincang tentang pengalaman satu sama lain saat liburan kemarin. Tak banyak yang bisa aku ceritakan padanya. Karena, kegiatannya ku hanyalah di rumah sembari membantu menjaga toko bunga milik orang tuaku. Keasikan mengobrol sampai-sampai tanpa sadar kami berdua sudah tiba di kantin sekolah.
“Hmmm enaknya makan apa ya.” Gumam Iyo. “Ga tau dah, aku yang penting porsinya banyak ama bikin kenyang. Lapar banget ini soalnya.”
Akhirnya kami berdua memesan ayam gerpek. Tapi aku menambah 2 porsi nasi. Karena memang aku berniat untuk makan banyak. Setelah selesai makan dan kekenyangan kami lanjut mengobrol satu sama lain.
“Udah mulai sepi nih di kantin, kuy balik ke kelas.” Saut Iyo. “Eh iya ya, ayo! Ntar telat lagi.” Balas ku.
Saat di perjalan menuju kelas kami melewati perpustakaan dan tidaksengaja bertemu dengan Bu Isma. Yaitu, guru pelajaran seni kami.
“Hallo, Bu Isma.” Sapa ku sambil tersenyum.
“Hallo juga bu.” Sahut Iyo juga.
“Eh kalian, hallo juga Rama dan Iyo. Kalian nggak masuk kelas?” Tanya Bu Isma sambil membuka pintu perpustakaan.
“Ini baru mau masuk bu. Tadi kebetulan aja ketemu ibu disini.” Jawab Iyo.
“Iya bu, betul” kata Iyo.
“Tapi ngomong-ngomong ibu lagi ngapain ya? Tumben banget lo ngeliat ibu ada di depan perpustakaan.” Tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala.
“Ibu lagi mau ngambilin buku-buku paket nak. Kalian ada kelas ibu kan nanti? Nah buku paketnya rencananya mau ibu bagikan.” Jelas Bu Isma.
Karena jam istirahat masih tersisa beberapa menit. Aku dan Iyo saling memandang satu sama lain. Seakan- akan kami bisa bertelepati. Kemudian aku kembali menghampiri Bu Isma yang sedang sibuk mengumpulkan buku-buku paket pelajaran seni yang tersebar di rak-rak buku.
“Bu, gimana kalo kami bantu ibu mengumpulkan buku paketnya?” Ucapku sambil menunjuk Iyo.
“Beneran nih? Nanti kalian terlambat masuk kelas lo.” Jawab Bu Isma dengan nada bicara yang masih agak ragu.
“Tenang aja bu, cepet kok ini mah.” Balasku dengan penuh kepercayaan diri.
“Ok deh, makasih ya atas bantuannya.”
Akhirnya Bu Isma pun setuju. Aku, Iyo, dan Bu Isma kemudian berpencar di dalam perpustakaan untuk mencari buku paketnya. Setelah sekian menit kami mencari. Akhirnya kami mendapatkan sekitar 36 buku paket.
“Nah, udh semua nih bu.” Ucapku sambil mengusap keringat yang mentes dari keningku.
“Makasih banyak ya, Rama dan Iyo.” Balas Bu Isma sambil tersenyum.
“Ini mau kami bawakan sekalian ke kelas ga bu?” Sahut Iyo yang sedang memegang salah satu buku paket tersebut.
“Yaudah boleh deh nak, Minta tolong ya. Soalnya ibu juga masih ada urusan lagi habis ini.” pinta Bu Isma.
Aku dan Iyo kemudian kembali ke kelas dengan membawa buku paket tersebut yang masing-masing dari kami membawa sekitar 18 buku. Bel tanda masuk sudah berbunyi dan untungnya kami sudah tiba di kelas. Aku dan Iyo lekas langsung membagikan buku baket yang kami bawa kepad masing-masing murid. Setelah semua siswa mendapatkan bukunya. Aku baru bahwa aku sendiri malah belum kebagian buku paketnya. Lantas aku menghampiri Iyo.
“Yo, masih ada buku paketnya ga? Aku ga kebagian soalnya.”
“Lah, bukannya harusnya pas ya jumlah bukunya. Hmmmm eh itu, masih ada 1 di meja guru.” Ucap Iyo sambil menunjuk ke meja guru yang ada di dekat papan tulis.
Aku pun segera mengambilnya. Namun, ketika pertama kali kulihat buku paket yang aku dapat ini. Aku agak sedikit terkejut, dikarenakan kondisi buku paketnya yang sudah compang-camping. Warna dari buku paketnya sudah pudar, dan juga ada beberapa halaman yang sudah sobek. Tapi karena hanya tinggal ini buku yang tersisa aku bisa berbuat apa. Tak ambil pusing, aku kembali ke mejaku dan bersiap untuk kelas selanjutnya.
Waktu terus berlalu dan tibalah saatnya jam pelajaran seni di kelasku. Bu Isma kemudian datang dan meminta kami untuk membuka buku paketnya. Aku kembali mengeluarkan buku baketku yang terlihat lusuh itu. Beberapa menit kemudian aku mulai bosan mendengarkan Bu Isma yang dari tadi menjelaskan materi. Karena aku masih sedikit penasaran dengan buku paketku kenapa bisa selusuh ini tampilannya. Aku pun membolak-balik halaman demi halaman untuk mengeceknya.
Sesuai dugaan hampir 50% dari buku ini kondisinya sudah rusak. Setelah mengecek halaman demi halaman, sampailah aku pada halaman terakhir. Nah disini aku agak sedikit bingung. Karena kondisi halaman terakhir buku paket yang aku dapat kondisinya masih sangat bagus. Tulisannya juga tidak pudar dan masih bisa terbaca dengan jelas. Aku heran kenapa hanya halaman terakhir saja yang kondisi fisiknya berbeda dengan halaman-halaman sebelumnya.
Ketika aku sedang mengecek halaman terakhir. Aku tidak hanya menemukan kondisi fisik halamannya yang bagus. Tapi, aku juga menemukan ada sebuah nomor yang tertulis tepat di sebelah kanan bawah halaman. Itu terlihat seperti sebuah nomor telepon. Penasaran akan hal itu, aku pun mencoba untuk menyimpan nomor tersebut dan mencoba menghubunginya. Rasa bosanku seketika hilang karena aku menemukan sebuah hal yang menarik. Tidak hanya melulu mendengarkan Bu Isma mengoceh.
Nomor sudah kusimpan, saatnya ku coba mengirimkan pesan. Aku menuliskankata ‘Hi’ pada aplikasi pesan. Setelah itu beberapa menit telah kutunggu tapi tidak ada balasan dari nomor tersebut. Bahkan sampai kelas Bu Isma selesai pun tetap tidak ada balasan. Mungkin ekspektasiku saja yang terlalu tinggi, dengan berpikir bahwa aku akan menemukan suatu hal yang menarik dari nomor tersebut. Harusnya aku sudah tau dari awal bahwa itu hanyalah nomor bohongan yang di tulis oleh orang iseng. Seketika rasa bosanku yang tadinya sempat hilang, malah muncul kembali. Malahan sekarang aku merasa sedikit kesal. Karena, sudah dikerjai oleh orang iseng. Sekolah pun usai dan tibalah waktunya untuk pulang.
“Rama, ke tempat biasa kuy.” Ajak Iyo yang sudah menentang tasnya.
“Sepertinya hari ini ngga dulu deh Yo” Balasku sambil sedang membereskan alat tulisku.
“Lah tumben, emangnya ada apa?” Tanya iyo dengan ekspresi bingung.
“Ngga ada apa-apa sih, aku cuman capek aja. Pengen langsung pulang dan tidur.” Jawabku.
“Oalah, kalau begitu aku duluan ya.” Ucap Iyo sambil berjalan pergi. Aku pun membalasnya dengan melambaikan tangan.
“Hati-hati.”
Tidak terasa hari sudah sore saja. Aku berjalan menyusuri Lorong kelas untuk menuju ke pintu gerbang sekolah. Sembari melihat-lihat pemandagan daun-daun bewarna oranye dan coklat berjatuhan, di lapangan sekolah yang sedang dipakai untuk latihan basket. Angin sore yang menerpa wajahku terasa begitu menyegarkan. Membuat suasana sore di musim gugur ini begitu sejuk. Di tengah perjalanan hp ku tiba-tiba saja bergetar dari balik saku celanaku. Aku pun mengceknya, awalnya ku kira Iyo mengirimiku pesan.