by : Misae Amaya

Akhir februari datang dengan cepat. Siang hari di kota besar diguyur oleh hujan yang lebat, menyelimuti kota dengan deras air dan petir yang menyambar. Aku melangkahkan kakiku pada genangan air, payung pemberian ibu di tangan, menyusuri jalan kecil menuju rumah sementara. Tidak banyak orang yang berlalu lalang ditengah ribut hujan. Untuk sesaat, aku pikir kota ini bukan kota besar yang sangat di dambakan, namun hanya sebuah tempat kecil di dunia.

Mereka mengikutiku.

Sebuah siluet berlari melewatiku, dua lainnya mengikuti jejak tertinggal. Mereka tertawa dengan sangat riang, menendang air pada sesama tidak memedulikan ocehan mama seusai pulang sekolah. Jaket kuning anak itu sangat buruk, kekecilan di tubuh, warnanya sangat mecolok namun dia memakainya tanpa rasa malu. Kaki kecil menginjak genangan dengan bersemangat tidak peduli seberapa kotor. Aku pikir itu terlalu kekanak-kanakan, mengingat besok dia harus memakai seragam yang sama.

Mereka mengikutiku.

Di seberang jalan seorang anak terduduk. Dua anak lain berjejer disebelahnya. Duduk di tengah trotoar diikuti oleh canda dan tawa. Topi merahnya sangat tidak enak dipandang, jahitan hampir lepas, warna yang sudah memudar namun dia memakainya tanpa memedulikan apapun. Dengan tangan terbentang, tanpa guna ia berusaha menggapai butiran air dan sesuatu yang tidak ada. Dia memainkan mobil kecil hasil curiannya dari anak disebelahnya.

Mereka mengikutiku.

Di sebuah toko kecil didekat rumah persinggahanku terdiam seorang anak. Ia menatap lurus dengan tatapan kosong, tangan di samping tubuh. Sepatu hitam tidak terkotori apapun, talinya terikat kencang, warnanya yang mengkilap namun dia memakai tanpa perasaan apapun. Berdiri terdiam ditemani rintik hujan dan angin sepoi-sepoi. Dia memikirkan tugasnya yang belum terselesaikan bersama teman yang tidak ada.

Mereka mengolokku.

Langkahku terhenti, deras air mengalir ke parit diujung jalan. Refleksi wajah menatapku, dengan mata hampanya seolah berkata dengan mengejek. Menanyakanku Apa? Apa? Apa?.

Aku menginjakkan kaki pada genangan.

Sepatuku sudah sangat basah, aku tidak tahu mengapa aku rela memotong hujan jika pada akhirnya aku harus menggunakan sepatu lain yang belum aku bersihkan. Rambut hitamku terikat tanpa pelindung . Jaket kuningku tertinggal di rumah, ibu melarang aku membawa itu karena ukurannya yang sudah kekecilan. Aku terpaksa memakai jaket abu- abu pemberian ayah yang kebesaran. Payung pink manis pemberian ibu melindungiku di setiap langkahku.

Hujan sangat deras,

Sangat keras,

Sangat lebat,

Menggerutu,

Mereka dengan lantang menyanyikan lagu tanda awal kedewasaanku. Memberikan salam perpisahan pada masa kecilku.