by : Awaisupa

“Anak-anak, tahu tidak pesawat terbuat dari apa?”

Telunjuk-telunjuk kecil teracung serentak. Lelaki muda dengan tinggi semampai memicingkan matanya. Menarget bocah gempal dengan dasi tidak beraturan di pojok kanan belakang. Percaya diri anak itu berdiri sembari merogoh laci meja. Sebuah pesawat kertas.

“KERTAS!”

Jawaban yang singkat, padat, dan lantang. Seisi kelas tertawa. Sang guru tak kalah terbahaknya. Bocah itu memang terkenal sebagai badut kelas. Bukan hanya perawakannya yang menggemaskan, namun juga tingkah lakunya yang absurd bahkan di luar nalar. Meski begitu, dia terlampau rajin. Paling pertama masuk kelas. Paling pertama mengumpulkan tugas. Juga yang paling pertama remedial di kelas Bahasa Jepang.

“Wah, kalau begitu, pesawatnya bisa terbang aja dong? Gak bawa penumpang?”

Koi—karena keluarganya punya usaha bibit ikan koi jadi panggilannya begitu— terkekeh. Kembali tangannya menyelam di kantung ransel. Mengeluarkan dua figure lego yang terlihat seperti berpasangan. Entah bahan atau teknik macam apa yang dipelajarinya, ketika pesawat kertas itu diterbangkan, dua figur itu tidak terjatuh. Sedikit turbulens ketika mendarat di meja guru. Murid-murid sekali lagi ramai dengan tepuk tangan.

“Tuh, Pak. Saya bisa!”

Koushi berdecak kagum. Sedikit terpana sebelum ikut bertepuk tangan. Itu keren. Seumur hidup, prestasi menerbangkan pesawat kertasnya hanya sampai di depan papan tulis. Kadang tersangkut di atas loker. Pernah Koushi iseng menerbangkannya keluar jendela. Mendarat pas di kepala botak sepetak kepala sekolah. Seminggu lebih disuruh membersihkan reja-reja dan ilalang kering di halaman depan sekolah dengan rompi karton bertuliskan “Saya pilot yang mendarat tidak sesuai aturan”. Seumur hidup juga kejadian mempermalukan diri di depan umum itu dipaku Koushi dalam sel-sel memorinya.

“Tadi itu keren sekali, Koi. Lain kali ajari Bapak ya?” Bocah itu memejengkan deretan giginya lebar. Memberi jempol.

Koushi menyeringai, menempatkan pesawat sang empunya kembali ke hanggar asalnya. Atensinya beralih pada sekumpulan manik yang masih penuh tanda tanya. Pertanyaannya tadi memangnya ada hubungannya dengan pelajaran Bahasa Jepang?

“Di dunia nyata, pesawat terbuat dari baja. Jadi lebih kuat menampung banyak penumpang. Kalau pernah lihat pilot mengendalikan pesawat, kelihatannya kayak mudah kan ya? Tapi, butuh keberanian dan rasa tanggung jawab yang tinggi supaya bisa membawa penumpang sampai ke tujuannya dengan selamat.”

Pemuda kepala dua itu mengoret permukaan papan. Tarikan kapur mulai terbaca. “Keberanian”. Bohlam-bohlam kecil seperti menyala bersamaan di atas ubun-ubun mereka. Ini pasti tugas lagi. Reaksinya bervariasi. Ada yang masam. Ada yang mulai memikirkan bentuk tugasnya seperti apa. Ada yang saling bisik mengatur kerja sama. Oh, dan jangan lupa Koi yang sudah siap sedia kertas dan pensil serta dua kepala runcing di kedua sisinya. Koushi menepuk sisa-sisa kapur di sela jemari. Tersenyum lebar sembari berkacak pinggang. Sayang, bagi sebagian warga kelas 6-C, itu adalah postur pembawa malapetaka.

“Oke anak-anak! Tugas kali ini adalah membuat satu paragraf terdiri dari lima kalimat tentang definisi kalian soal keberanian. Buat sebebas dan sekreatif mungkin. Hari Rabu lusa kalian akan presentasi di depan ya. Eh, yang pakai gaya atau posenya keren nanti Bapak kasih poin plus, hehe. Semangat!”

“Yahh~” serentak menggema di seluruh penjuru mata angin.

Koushi justru melebarkan seringainya lima senti. Entah mengapa sisi jahilnya sering mencuat ketika membagikan tugas presentasi pada anak didiknya. Serasa menjahili anggota tim voli SMA-nya dahulu. Heh, tiba-tiba nostalgia sendiri.

“Beri salam!” dan bersamaan bel sekolah bergeming, jiwa-jiwa yang meronta ingin kembali ke rumah masing-masing pun bubar barisan. Guru Bahasa Jepang itu lebih memilih bersemayam sebentar di dekat jendela. Menatap kerumunan anak-anak bagai koloni semut mengangkut hasil temuannya ke sarang. Hari ini cukup berangin, tapi tidak cukup untuk membuat rambut menari kemana-mana. Jadi pendingin ruangan ia matikan. Membuka lebar salah satu jendela di tengah. Arus lembut bak menangkup wajahnya. Hilang seketika menyapa tengkuk. Angannya dibiarkan jauh dibawa bayu. Sejak SMP, kebiasaannya dirangkul angin cukup membuat sedikit beban pikirannya hilang terhanyut udara lepas.

“Heh, keberanian. Coba aku punya itu pas lulus dulu.” Oh, sekarang episode masa SMA lagi ya? Yah, tidak buruk juga, sih. Chapter itu mengandung babak paling rollercoaster sepanjang novel hidupnya dituliskan alam semesta. Ikut klub voli yang diujung tanduk ajal. Menemui pasang kepala yang tangan-tangannya saling merangkul solid. Masuk kejuaraan nasional voli tingkat SMA se-Jepang. Memegang sertifikat lulus di bawah pohon sakura, berdampingan bersama puan dengan tahi lalat di ujung bibirnya. Eksistensinya sendiri seperti menghipnotis akal sehat sang tuan. Shimizu Kiyoko. Cukup dengan nama itu saja seperti habis menenggak whiskey satu botol utuh. Mabuk, ingin minum lagi dan lagi. Bercengkrama di lorong gedung olahraga masih belum cukup.

Bertukar puji di jalan pulang masih belum cukup. Beradu sticker Line di ruang obrolan masih belum cukup. Berteman saja belum cukup. Itu yang selama ini bersangkar lama di suatu pojok berdebu batin Koushi. Ditambah dua adik kelasnya yang ikut mengejar sang dewi manajer menumbuhkan sedikit rasa kompetitif si remaja tanggung. Orang boleh bilang dia yang paling dewasa di klub Karasuno. Tapi soal asmara? Baru balita yang masih belajar merangkak. Kencan pun sebatas makan bakpao daging berdua saat Daichi atau Asahi tidak menemaninya menyusuri jalan pulang. Itupun punggungnya harus rela bolong dipelototi Ryuunosuke dan Yuu saat keluar gerbang sekolah. Perasaan diam-diam begini sedikit lebih nyaman bagi Koushi. Nanti, ada waktunya. Bukankah lebih baik pelan-pelan saja dulu? Pasti lama kelamaan perasaan nyaman itu juga merambah Kiyoko. Pasti.

“Aku bakal nikah sama Ryuu.”