by : Misae Amaya
Suara daun remuk memecahkan sunyi, terdengar dari bawah kakiku yang berjalan keluar dari kedai kecil untuk menghabiskan waktu. Suara keramaian terdengar jauh dengan setiap langkahku menembus kota . Senja hari memberikan warna indah pada awan yang kuterawang sembari berjalan tak tahu arah. Ku hembuskan awan putih kecil, merogoh saku jaket untuk kehangatan.
Sebuah daun gugur terbawa angin menarik perhatianku.
Musim gugur mewarnai taman yang berada di depanku dengan warna menyala. Bunga berbagai macam tumbuh dengan manis di setiap sisi jalan. Bangku-bangku kosong berjejer dengan rapi tanpa pengunjung, hanya ditemani siul burung dan daun maple yang berayun dengan santai.
Api.
Warna daun itu mengingatkanku pada api, terang menyala, bersinar, namun tanpa ampun dan kejam.
Maple itu jatuh dan membakar kenangan yang mengikutinya.
Menyesal. Aku tiba-tiba merasa menyesal tidak segera pulang ke rumah. Tidak segera tidur dan menunggu jam berdetak menandakan hari esok. Daun api terus berguguran disekitarku, mencemooh dan tertawa padaku, sebelum jatuh menjadi abu.
Seseorang hilang.
Seorang anak kecil naif mendapatkan nilai yang bagus, teman tidak dapat dihitung dalam empat jari tangan, dan sebuah keluarga pada meja makan.