by : Awaisupa

“Menurutmu, aku ini orangnya sentimental atau cuekan?”

Yang ditanya hanya sibuk menjilat bulu. Sempat menoleh lama sebelum mengambil napas panjang. Macam sedang mengantisipasi ocehan aneh lelaki bertopi seaneh isi kepalanya.

“Apa maksudmu? Aku tahu ini jam-jam rawanmu, tapi setidaknya tanya yang lebih masuk akal, deh.”

“Hehe... emang iya? Perasaan itu hanya pertanyaan biasa kok.”

Aku mengendikkan bahu. Memasang air muka bodoh seperti biasa. Kalau bukan karena ingin menemani rewelan malam penyuntas gundah sahabatnya itu, Yoruichi pasti sudah mengirim jitakan penuh pengertian ke ubun-ubunku. Ah, tapi sudah dibegitukan juga aku bakal tetap kembali ke mode menyebalkan itu, kok. Maaf ya, jadi buang-buang energi mantan Kapten Divisi 2 saja.

“Jawab dong, aku yang mana?”

“Sejak kapan kamu jadi bawel gini, heh. Ck, iya iya. Kamu itu sentimental pake banget-nget-ngettt! Sampai-sampai orang-orang disekelilingmu itu jadi ikutan sentimental gara-gara kamu.”

Aku tertawa. Aku memang suka tertawa. Beragam pula artinya. Yoruichi hapal benar. Kalau panjang dengan nada tinggi, aku sedang terhibur. Kalau pendek nada rendah, sedang basa-basi belaka. Kalau panjang dengan nada naik turun, selera humorku memang sedang tergelitik. Kalau ini, perempuan itu bingung. Tidak, memang tidak pernah kutunjukkan sebelum-sebelumnya. Aku juga tidak mengerti. Perasaanku selalu tidak pernah tergapai alam pikiranku. Entahlah, aku jadi skeptis sendiri.

Pertanyaan tadi malam tidak sempat sampai konklusi. Kucing—eh, bukan. Yoruichi sudah balik kanan duluan. Meninggalkanku dengan gelas teh dan piring sisa manisan yang lama kandas. Oh, kurasa kita bisa berteman baik. Sama-sama memiliki kekosongan. Kekosongan yang menyisakan sesuatu berbekas. Sirna saat dibunuh paksa oleh pasukan dengan gas air mata berbusa menaiki tank kuning-hijau. Mayat-mayatnya diguyur hujan air mentah. Atas nama kebenaran. Atas nama membersihkan. Menghilangkan dosa-dosa yang bahkan tidak ia perbuat. Aku termenung. Menatapi— meratapi lebih tepatnya nasib piring dan gelas itu. Seakan hidup kembali dengan keadaan “bersih tanpa noda”. Menjalani reinkarnasi kehidupan selanjutnya dengan damai sentosa. Oh, kurasa memang kita sepatutnya berteman.

“Pak Urahara, daun-daunnya jatuh.”

Aku mendongak. Menyisihkan koran dengan kabar yang diulang-ulang. Urara benar. Halaman toko seketika seperti langit senja yang jatuh. Sayang sekali pekerjaan Tessai dan anak-anak jadi bertambah. Tapi itu artinya musim paling tidak kunanti tahun ini akan datang. Bukan. Bukan karena halaman jadi kotor. Bukan juga karena udara jadi berhembus dingin di tengkuk. Sepasang kaki yang kuharap ada dan tiada nanti datang. Satu kepala dengan mulut dengan kata-kata selembut nyanyian para malaikat. Dan sepasang tangan yang ingin kugenggam, namun jauh dari jangkauan.

“Tumben jauh-jauh kesini. Apa gak ganggu kuliah?”

Kamu menggeleng. “Masih libur. Sekalian mau jenguk om sama tante.” “Ohh...”

Aku tahu. Tadi cuma sekedar basa-basi. Aku juga tahu tujuan utamamu bukan ke teras dengan pemandangan tembok tetangga. Aku tahu, tapi mengapa rasanya percakapan kita seperti akan terputus secepat kembang api padam? Aku tidak mau. Meski isinya seperti kaset rusak. Meski cuma saling menyahut “Ya” dan “Tidak”.

Meski... ah... mestinya mulutku memang dibiarkan terkatup saja. Tidak mempertanyakan juga tidak meminta jawaban. Seharusnya harapan itu kubiarkan mati di pojok berdebu batin. Menguar perlahan bersama pil pahit kenyataan yang setengah mati sedang kutelan.

“Dingin, ya?” “Iya.” “Sudah makan? Maaf, ya. Cuma punya cemilan, hehe. Atau mau makan di luar?” “Saya sudah makan. Makasih tawarannya, Mas.” “Oh... hehe. Um, eh! Hari ini ada festival, loh! Yah, sebenarnya masih bisa lihat kembang apinya dari sini, sih.”

Kamu tidak merespon. Tempias cahaya dari gawai nampaknya lebih menarik sorot manik cokelatmu. Dering senyap notifikasi mengisi keheningan. Bibirmu masih merapat. Jarimu tak membalas entah gelembung pesan siapa yang menghubungimu. Hei, aku disini tahu. Sebegitu enggannya kah menemuiku? Kenapa tidak sekalian saja langsung kembali ke kota barumu? Kenapa membuat alasan yang sebenarnya tidak ingin kamu katakan? Kenapa kamu masih mengingat janji musim panas setahun lalu? Kenapa—

“Ah, kembang api.”

Deru ledakan mengalihkan atensi. Bunga-bunga api bermekaran di taman bunga dewi bulan. Layu satu, muncul kuncup baru. Mengembang dalam sekejap, lalu hilang dimakan rasi bintang. Aku tidak tahu siapa yang paling bersinar malam ini. Kembang api yang singkat hidupnya, bulan dan bintang yang saling berebut panggung malam, atau anting kristal hadiahku untukmu yang beranjak dari Karakura dua tahun lalu. Angin pura- pura tidak tahu. Mayat daun bergeming tanpa suara. Gelas bekas lipstikmu pun bergenang dengan seluruh pertanyaan tentang kita malam ini. Tentang betapa takdir bermain terlalu kejam dengan satu hati.

“Saya kangen nonton kembang api sama Mas.” Jangan beri aku harapan. “Sayangnya, tahun berikutnya, kembang apinya bakal ada di langit lain.” Jangan beri aku harapan. “Maaf, takoyakinya gak sempat saya habiskan.” Jangan beri aku harapan. “Maaf, tehnya tumpah di haorinya Mas.” Tolong, jangan beri aku harapan. “Maaf, mungkin ini terakhir kalinya kita makan dango bareng.”

Tidak. Tunggu, bukankah jawaban ini yang sedari dulu kuinginkan? Seribu satu penolakan yang demi Tuhan sudah siap kuterima lapang dada. Yang setiap bangun melatih ekspresi wajah di depan cermin berembun. Yang bahkan momen janji itu kini tertutup kabut samar. Lidahku kelu. Pikiranku kacau. Oh, Kisuke, kau orang paling pengecut di tiga dunia.

“Ah..haha.. kenapa minta maaf? Itu udah lama banget. Jangan dipikirin, ya? Aku tahu kamu sibuk, jadi tidak mungkin kesini tiap tahun, kan? Yah, aku cuma bisa kasih doasama good luck aja, sih. Apapun yang terjadi, jaga diri baik-baik, ya.”

Selesai. Titik. Kamu pamit. Mengusung senyum tipis. Hilang di tikungan, dilahap beton dan tembok-tembok rumah. Kosong. Harusnya tidak ada lagi yang perlu kugalaukan di jam-jam rawan. Mestinya begitu. Cerutu kuhirup. Topi using kutanggalkan. Sedari lahir aku percaya hatiku seperti bola-bola ubi. Kopong berongga. Di luar pura-pura tangguh agar diandalkan. Kadang pura-pura bodoh agar diperhatikan. Ketika semuanya telah usai, mengapa masih saja ingin kutanyakan padamu pertanyaanyang sepanjang udara malam berembus menemaniku meracau bak bujangan gila?

Katanya musim ini seperti membuka lembar buku baru. Dan baru saja aku menutupnya. Kisah seorang yang radarnya samar-samar nan tidak penting. Yang kembali mengikat janji dengan kuburan daun-daun antah berantah. Ikrar semu tentang merelakan yang telah hilang, serta perlahan belajar mengobati luka tanpa senyumanmu. Karena nyatanya memang sedari awal, jatuh hati padamu itu layaknya berharap daun maple tak berguguran di bulan September.

“Menurutmu, pantaskah hantu berkepala dengan rongga di dadanya meminta kasih dari hati seorang malaikat maut?”