by : Nagi

Aku memutuskan untuk duduk dibawah pohon sakura sembari melepas lelah sehabis berjalan mengelilingi sekolah. Bulan ini pun bunga sakura kembali berguguran setelah melalui pergantian musim. Aku menemui sosokmu di antara kelopak bunga yang sedang berdansa di udara. Kupikir pertemuan pertama itu terulang kembali dengan sebuah layar proyektor besar ternyata aku salah, ini pemandangan yang sedikit berbeda.

Matamu selalu terlihat berkilauan saat memandang langit musim semi seolah mensyukuri bahwa kali ini pun kau melewati empat musim dalam setahun. Nafasmu yang tertahan karena mengagumi pemandangan saat ini serta kedua pipimu memerah saat menemukan seekor kucing tertidur di antara dahan pohon. Lagi-lagi kau bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan dirimu setiap hari. Namun yang berbeda dari hari itu adalah senyumanmu lebih tulus dari sebelumnya, seolah merelakan kesedihan yang sudah dilewati.

Aku ingat terakhir kali kau mengunjungi tempat ini pada saat kau merasa takut dengan pandangan semua orang, rumor yang beredar, perundungan yang kau alami. Akan tetapi pandanganmu pada dunia tetap luas, tetap mencari bagaimana caramu untuk tetap bahagia sebelum kembali ke rumah. Menerima semua rasa sakit dan mengobatinya sendiri, aku mengagumi dirimu yang masih berdiri sampai detik ini.

Ketika dirimu terlelap dalam dunia mimpi, aku menyempatkan untuk masuk. Membesarkan hatimu, mendengar keluh kesahmu, membantumu mencari solusi, rupanya itu sangat berguna untukmu. Dirimu yang dulu kutemui dengan seragam lusuh, kali ini tersemat medali kertas berbentuk bunga sakura pada jas seragam milikmu dengan tulisan ‘Lulus’. Aku tersenyum lega dengan perasaan yang sama bangganya denganmu. Tidak akan ada lagi hari- hari dimana aku bisa melihat senyumanmu setiap harinya di tempat ini. Kau akan pergi jauh untuk melanjutkan studi yang sudah kau rencanakan beberapa tahun lalu, impian yang kau tulis di atas kertas masa depan. Lembaran baru akan ditulis lagi dengan perasaan yang baru.

Kali ini kau tidak sendiri lagi, teman-temanmu menyapa dan mengajak berfoto, mengabadikan kenangan karena hari ini hanya terjadi sekali dalam hidup ujar mereka. Aku tersenyum tipis melihatmu tersenyum di tengah-tengah mereka. Lihat, sekarang kau lebih berani untuk melihat lensa kamera yang menangkap wajahmu. Kurasa aku tidak perlu menemanimu lagi di dalam mimpi.

Membawamu berlari menanjaki sebuah bukit untuk memandangi cahaya sebuah kota dengan bulan yang selalu bersembunyi di antara awan yang berarak mengeliling bumi pada malam hari hanya demi keegoisanku. Benar, keegoisanku adalah melihatmu tersenyum berseri-seri, meringankan beban yang kau pikul setiap harinya saat terjadi perundungan di sekolah, semua itu demi diriku sendiri. Karena aku tidak bisa membantumu, bahkan meraih tanganmu saat ini terasa sangat sulit bagiku.

Saat sesi berfoto selesai, kau bercerita mengenai kucing yang sedang beristirahat di dahan pohon sakura pada temanmu dan merasa ada seseorang memperhatikanmu. Aku terdiam sejenak karena reaksimu bukan rasa takut, melainkan perasaan tenang seperti pada saat aku menemuimu di dalam mimpi. Kedua ujung bibirku terangkat, kuputuskan untuk mengucapkannya tepat di telingamu.

“Selamat atas kelulusanmu”

Saat berbalik, kau hanya mendapati angin menghembuskan sebuah kelopak sakura.