by : Hira Arta
Masa kelulusan sekolah sudah hamper dekat. Saat-saat terakhir bagi siswa kelas 12 untuk mereka membuat kenangan dengan teman-teman dan orang terkasih mereka. Karena mereka segera kan menempuh jalan hidup mereka masing-masing. Begitu juga yang dirasakan oleh kedua sahabat yang Bernama Sayo dan Nara.
“Tak terasa kita sudah akan lulus ya? Seingatku baru kemarin kita berkenalan satu sama lain.” Ucap seorang gadis yang sedang menatap keluar jendela. “Iya, waktu memang terasa begitu cepat. Aku masih ingat dengan jelas di saat hari pertama pembukaan sekolah. Ketika aku sedang di toilet tiba-tiba saja ada seseorang yang berteriak dari bilik toilet. Hahaha.” Balas gadis berambut pendek yang sedang duduk dan melihat kearah Nara sambil tersenyum mengejek. “Ahh! Kamu ini masih ingat saja. Itu udah lama banget tau. Lagian bukan salahku pintu toilet waktu itu tiba-tiba terkunci sendiri.” Tegas Nara sambil cemberut dan mengerutkan keningnya. Ia Kemudian duduk di depan Nara sambil membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah lembaran kertas.
Kertas itu adalah sebuah formulir penelusuran minat masuk perguruan tinggi dari sekolah. Murid-murid harus mengisi universitas mana yang akan mereka tuju dan program studi apa yang akan mereka ambil. Ini sifatnya adalah wajib karna nantinya akan diserahkan kepada pihak sekolah.
“Kau sudah mengisi ini?” Tanya Nara sambil menyodorkan formulir itu kearah Sayo. Lantas Sayo pun mengambil formular tersebut dan membaca sekilas. Kemudian ia meletakkan Kembali formular itu di atas meja. “Hmmm... Jujur saja aku masih bingung apakah akan lanjut kuliah apa tidak.” Jawab Sayo sambil menghela nafas dan menyilangkan kedua tangannya. “Kau itu pintar Sayo, sayang jika kau tidak melanjutkan kuliah.” Sayo tak menggubris pernyataan yang dilontarkan oleh Nara. “Bagaimana denganmu Nara?” Nara tiba-tiba terdiam. Sebetulnya Nara masih belum tau universitas mana yang mau ia tuju. “Biaya kuliah sangatlah mahal Nara, aku harus membantu orang tua ku. Adik-adikku juga masih sekolah. Jadi... Siapa yang akan mengurus mereka juga nantinya?” Ucap Sayo pelan sambil tersenyum. Nara mencoba untuk berbicara namun Sayo memotongnya. “Kalo kau Nara, aku yakin kau bisa lanjut kuliah kok. Kau hanya masih bingung saja untuk sekarang.” Celetuk Sayo sambil menyerahkan Kembali formulir itu ke Nara. Tak lama bel sekolah pun berbunyi menandakan jam sekolah telah usai.
Hari berganti dan hari ini adalah hari sabtu yang mana sekolah libur. Nara mengajak Sayo untuk menemaninya pergi ke mall. Karena ada sebuah toko roti terkenal yang baru buka disana.
“Sayoo! Toko roti itu sudah buka loh!” Teriak Nara yang sedang menelfon Sayo. Saking girangnya ia tidak bisa berhenti mondar-mandir di rumahnya. Sayo yang barusan mendengar teriakan Nara hanya bisa terdiam sambil mengusap-ngusap telingannya. “Kamu mau kesana ya?” Tanya Sayo yang sedang berbasa-basi. “Iyalah, dan kamu harus ikut denganku.” Ucap Nara dengan lantang.
Sayo tau bahwa sekalinya temannya bersikap seperti ini, dirinya tidak akan bisa lepas. Karena ini bukanlah yang pertama kali baginya menghadapi situasi seperti ini.
“Baiklah aku akan ikut, tapi jam berapa kita mau kesana?” Tanya Sayo sambil duduk di atas meja makan.
“Jam 1 siang aja. Kita langsung ketemuan di mall.” Balas Nara sembari melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9 pagi.
Setelah percakapan selesai, mereka pun mematikan handphone masing-masing dan melanjutkan aktifitas di pagi hari. Beberapa jam telah berlalu dan sekarang jam menunjukkan pukul 1 siang. Di Tengah- tengah mall yang besar dan luas serta banyak orang yang berlalu Lalang. Sayo dan Nara sedang berjalan bersama mencari toko roti yang mereka incar. Setelah berkeliling kesana kemari mereka akhirnya menemukan toko roti itu yang berada di lantai 3 mall.
“Akhirnya ketemu juga!” Ucap Nara dengan ekspresi bahagia dan mata bersinar-sinar. “Iya, tapi tampaknya tidak hanya kita yang ingin mengunjungi toko roti ini.” Ujar Sayo yang sambil menunjuk sebuah antrian yang sangat Panjang di depan toko roti itu. “Gapapa, itu bukanlah masalah sama sekali. Selama aku bisa mencoba kue yang lagi viral itu!” Balas Nara dengan penuh semangat. Mereka berdua pun langsung ikut mengantri ke dalam antrian.
Beberapa menit pun pun telah berlalu dan perlahan antrian yang tadinya Panjang kini mulai menjadi pendek. Sayo dan Nara masih setia menunggu. Tak lama selang keduanya berbincang-bincang. Tiba lah giliran mereka untuk dapat membeli kue yang telah lama mereka idam-idamkan.
“Akhirnya Sayo! Akhirnya! Tiba giliran kita!” Ucap Nara sambil menggoyang-goyangkan lengan Sayo.
Ia begitu bersemangat. Sayo membalasnya dengan tersenyum. Mereka Kemudian melihat-lihat menu yang terpampang di atas kasir. Wajah mereka agak kebingungan karena banyaknya varian rasa di menu sehingga membuat mereka bingung harus beli yang mana. Sang kasir toko pun kemudian menyarankan mereka untuk mencoba menu paling best seller mereka yakni, kue Cromboloni.
Mereka pun menuruti saran dari sang kasir. Tak butuh waktu lama pesanan mereka sudah jadi dan kedua sahabat tersebut pergi dari toko tersebut. Sambil berjalan-jalan mengitari mall mereka berdua menyantap kue Crombolinya.
“Hmm~ enak banget, tekstur pastry yang garing dan crunchy di luar ditambah isian krim yang manis, serta aroma butter yang harum. Pantas saja banyak orang yang mengantri.” Oceh Nara dengan mulutnya yang belepotan dengan serpihan-serpihan pastry dari kuenya. “Iya kamu benar, tapi harganya agak sedikit terlalu mahal ga si? Kayaknya aku bisa bikin deh dirumah.” Balas Sayo yang sedang mengunyah sambil memperhatikan setiap sudut dari kue Cromboloni.
Mereka pun melanjutkan mengobrol dan menyantap kue mereka sambil berjalan-jalan menuju keluar mall. Asik membicarakan soal film yang akhir-akhir ini sedang viral. Mata Nara tiba-tiba tertuju pada sebuah iklan lomba yang sedang dipromosikan di salah satu sudut bagian mall. Nara Kemudian mengajak Sayo untuk melihat sebentar kesana.
Setelah sampai dan membaca sekilas mengenai lomba tersebut. Ternyata itu adalah lomba foto bertema persahabatan yang diselenggarakan oleh salah satu brand kamera terkenal. Karena penyelenggaranya adalah brand terkenal tentu hadiahnya tidak main-main. Berupa sejumlah uang yang sangat banyak serta tambahan kamera model baru bagi pemenang juara 1. Melihat peluang ini Nara Kembali menjadi bersemangat, dan hendak mengikuti lomba tersebut. Setelah Nara mendaftar keikutsertaanya, dan menanyakan beberapa informasi tambahan terkait lomba. Mereka kedua akhirnya pulang.
“Kamu sudah tau foto dengan konsep seperti apa yang akan kamu buat?” Tanya Sayo yang saat ini sedang mampir bermain di rumah Nara.
Sayo duduk di sebuah kursi di dekat meja belajarnya Nara. Sedangkan Nara sendiri ia hanya berbaring dan bergguling-guling diatas kasurnya.
“Ngga, aku masih belum dapat ide.” Jawab Nara dengan nada murung, sambil menatap kearah langit-langit kamarnya.
Sayo dan Nara saat ini sedang mendiskusikan tentang konsep foto seperti apa yang akan dibuat oleh Nara. Waktu pengumpulan foto untuk lomba tinggal 1 hari lagi. Jadi Nara harus cepat-cepat memikirkan ide karna waktunya sudah tidak banyak.
“Karena temanya persahabatan, bagaimana kalo mengambil foto yang konsepnya tentang kamu yang sedang menghabiskan waktu Bersama dengan sahabatmu?” Saran Sayo kepada Nara. “Betul juga, namun kegiatan seperti apa yang akan dilakukan Bersama ya... Oh aku tahu!” Sontak Nara beranjak dari tempat tidurnya dan menhampiri Sayo. “Sayo kamu pintar masak kan?Bagaimana kalo kita ambil foto seorang sahabat yang sedang masak-masak bareng, gimana? Jadi ceritanya, seperti aku sedang membantumu memasak.” Ujar Nara.